Monday, February 26, 2007

Bikin SIM

Anda punya SIM? Bikin sesuai prosedur atau nembak? Saya baru saja bikin hari Jumat yang lalu. SIM A dan nembak. Berikut ceritanya.

Jam 10 lewat sedikit saya sudah sampai di Polres dan clingak clinguk gak tau mau mulai dari mana. Sebetulnya, sejak sebelum berangkat, saya sudah berencana mau nembak saja. Mudah-mudahan tidak mahal. Tapi saya gak tau mau ketemu siapa. Dan tidak ada yang nawarin jasa. Beda banget dengan calo tiket di stasiun atau bandara.

Lalu saya beli koran dan iseng nanya sama tukang koran. Tukang koran menunjuk seorang anak muda yang ternyata adalah pegawai di loket asuransi, di dalam area pembuatan SIM itu. Oke deh, orang dalam akan bantuin saya. Lebih aman, pikir saya.

Bincang-bincang sebentar, lalu bicara harga. Cocok, 310 ribu rupiah dan saya hanya menunggu dipanggil, tanpa ada test sama sekali kecuali test tertulis. "Cuma nulis data saja, supaya nanti kalau mau perpanjang SIM akan lebih mudah," begitu kata si pemuda yang bernama Arif itu. Siip lah.... KTP saya dipinjam, lalu gak sampai 10 menit dikembalikan dan selanjutnya saya menunggu di loket untuk dipanggil.

Karena hari itu Jumat, maka jam 11 semua loket ditutup dan dibuka lagi setelah jam Jumatan, sekitar jam 1 siang. Ok, saya bisa Jumatan dulu di mesjid yang terletak di dalam Polres itu juga. Hujan besar, tetapi mesjid itu tetap ramai. Banyak anak sekolah dan tentu saja polisi-polisi yang bekerja di Polres itu. Selesai sholat Jumat, saya kembali ke loket dan nama saya dipanggil untuk mendapatkan formulir lalu dibawa ke ruang test tertulis.

Dalam ruangan test tertulis itu, saya dan sekitar 8 orang lainnya mendapat beberapa lembar kertas. Besar dan kecil. Kami dibantu untuk mengisi lembar demi lembar kertas itu. Lalu sampailah pada lembaran paling besar, yaitu lembaran test.

"Di sini Anda semua harus mengisi 30 buah soal. Anda harus menjawab benar paling tidak 18 soal. Kurang dari 18, Anda dinyatakan tidak lulus dan harus mengulang minggu depan. Kalau Minggu depan masih belum lulus, Anda harus kembali bulan depan. Kalau bulan depan masih belum lulus juga, kembali lagi 3 bulan. 3 bulan masih belum lulus, uang Anda dikembalikan," begitu kira-kira penjelas Bapak W (maaf, nama disamarkan) yang berwibawa dengan seragam polisinya itu.

Lalu beliau menjelaskan lagi, bahwa soal test terdapat lembaran soal yang dilaminting dan diperlihatkan kepada kami. Soal-soal itu berisi peraturan lalu lintas dan harus diketahui bagi siapa saja yang akan meneriuma SIM baik A maupun C.

Iseng, sambil mendengarkan wejangan dari Bapak W, saya bolak balik lembaran kertas yang saya pegang. Hah? Ibarat mendapat kado di hari valentine (halah!), saya tercengang dan tersenyum ketika melihat stempel pada lembaran paling belakang. Ada stempel yang menyatakan bahwa saya LULUS. Padahal lembar jawaban belum saya isi. Boro-boro ngisi, baca soalpun belum.

Rupanya, kekonyolan berlanjut. Lembaran soal yang dilaminating tidak dibagi. Bapak W dengan lantang menyuruh kita mengisi kolom jawaban sesuai dengan instruksi dia. Kira-kira begini : "Soal nomor satu, silang kotak paling atas. Soal nomor 2, silang kotak yang bawah. Soal nomor 3, silang atas, nomor 4 silang yang tengah, nomor 5 silang yang bawah.... dan seterusnya".

Konyolnya lagi, adalah "Soal nomor 24 sampai 30, silakan silang sendiri."

Jidat saya berkerut, alis mata bertemu di tengah, tapi bibir tersenyum geli. Dengan lincah tangan saya menyilang asal-asalan lembar jawaban itu.

Ujian (kalau boleh disebut demikian) selesai. Saya dan peserta lainnya diminta menunggu di depan ruang komputer untuk nanti dipanggil lagi, lalu difoto. Tidak sampai 10 menit, nama saya dipanggil lalu saya antri di ruang foto.

Foto selesai, termasuk juga cap jempol dan tanda tangan. Nunggu lagi, dan dipanggil lagi untuk penyerahan SIM. Selesai dan boleh pulang.

4 jam di Polres itu, dikurangi 1 jam untuk jumatan, saya hanya menemukan 4 orang yang melakukan ujian praktek. 3 orang ambil SIM C dan 1 orang ujian praktek pake mobil. Padahal, barangkali ada ratusan nama yang dipanggil untuk penyerahan SIM. Apakah nembak semua? Entah lah....

Jadi, kalau banyak pengemudi mobil yang amburadul, atau pengendara sepeda motor yang asal-asalan, ya harap maklum ya. Sabar-sabar saja.

Anda punya pengalaman lain dalam mengurus SIM? Cerita-cerita dong? :)

Monday, February 19, 2007

Rindu Serindu Rindunya

Tadi pagi, di jalan menuju ke kantor, saya membaca tulisan "salam cinta dalam angan". Entah siapa yang menulis dan entah apa maksudnya. Serba tidak jelas. Begitu rindukah si penulis kepada seseorang sehingga menitipkan salam cinta dalam angannya? Tapi, rindu itu apa sih?

Saya pernah, bahkan sering merasakan rindu terhadap seseorang. Pastinya orang-orang yang saya cintai. Bisa jadi Ibu saya, Ayah saya, kakak-kakak, adik, keponakan dan tentu saja kekasih hati saya.

Jika rindu itu tiba dan hinggap di hati, tentu ada upaya untuk melenyapkannya. Rindu harus dilenyapkan, diobati, dihilangkan, karena rindu itu merusak. Konon begitu. Upayanya antara lain telepon, kirim sms, kirim email, atau surat. Kadang tidak tuntas, tidak berhasil hilang dari hati. Rindu sering menempel kuat, layaknya power glue. Lengket dan bikin risih, menganggu. Kok bisa begitu ya?

Lalu saya berpikir, siapa yang saat ini saya rindukan dan belum bisa hilang dan lepas dari hati ini? Terlintas adalah adik Ibu saya yang terkecil, yang biasa saya sapa dengan Ndetek Eli. Ndetek adalah singkatan Mande Ketek, berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya Tante Kecil atau Bu Lik dalam bahasa Jawa.

Saya terlahir dari Ayah dan Ibu yang bekerja, sehingga waktu kecil, Ndetek Eli inilah yang mengasuh, menjaga, mendampingi saya. Tentunya banyak sekali cerita dan jasa beliau dalam pembentukan karakter dan kepribadian saya. Mungkin, hobby menyanyi juga menular dari beliau yang senang bersenandung sambil memasak, menyuapkan kami (saya, adik saya dan anak beliau sendiri) atau kegiatan lainnya.

Kalau memang rindu, kenapa tidak datang saja bertemu beliau yang saat ini tinggal di Bekasi? Gak jauh khan? Telepon juga bisa. Sms juga gak susah khan?

Baru saya menyadari, rindu itu bukanlah sekedar perasaan ingin bertemu. Rindu itu adalah perasaan ingin menunjukkan rasa cinta. Jika tidak ada cinta, rindu juga tidak akan ada.

Ya... ya... ya....
Jaman muda dulu, ketika masih cinta-cintaan monyet (catt: sama orang lho, bukan sama monyet) saya dan cintaan saya sering mengumbar kata rindu atau kangen. Padahal beberapa jam sebelumnya juga ketemu. Tapi sekarang, karena sudah tidak cinta lagi, walau udah gak bertemu bertahun-tahun, saya gak kangen tuh. Gak ada rindu lagi buat dia, karena memang gak cinta lagi.

Ya... ya... ya....
Obat rindu bukanlah sekedar bertemu. Rindu akan terobati apabila kita bisa membuktikan dan menyakinkan seseorang bahwa kita mencintai dia.

Wednesday, February 14, 2007

Ngantuk

Hari ini ngantuuukkkk.... banget. Emang sih, kerjaan di kantor lagi rada slow. Tapi bukan berarti boleh tidur di jam kantor khan? Jam 3an tadi sempat sekejap lessss.... lalu buru-buru ambil wudhu menjelang sholat Ashar. Ternyata air sejuk nan suci itu masih belum bisa menghilangkan kantuk. Duh.... Kebetulan, hari ini saya kurang sehat dan saat makan siang tadi sempat kena hujan dikit.

Yen tak pikir-pikir, saya memang sulit menahan kantuk. Dulu, ketika masih SMA dan kuliah, sering kali kumpul dan begadang sama teman-teman di rumah salah seorang rekan. Kadang-kadang camping atau saat mempersiapkan suatu acara.Teman-teman pada begadang atau lek-lek an (istilah orang Semarang), ditemani rokok, kopi, kacang atau camilan lainnya. Saya memilih tidur. Lebih enak :)
Dibanding keluyuran, saya memilih untuk tetap tinggal di rumah. Sampai sekarang pun, kalau di rumah saya memilih tidur sampai capek hehehe.... Karena kebiasaan tidur inilah, ayah saya pernah bilang bahwa badan saya yang tinggi panjang ini meniru badan ular, yang sama-sama suka tidur lama.

Waktu baru-baru tinggal di Jakarta, saya sangat khawatir tertidur di atas kendaraan umum. Takut kebablasan sehingga tempat berhenti jadi kelewatan dan takut terjadi apa-apa pada saat tidur, misalnya copet. Tapi, semakin sering naik kendaraan umum, saya jadi terbiasa tidur sambil duduk. Bahkan, akhir-akhir ini, saya bisa tidur 10 menit setelah dapat tempat duduk. Kadang bis belum jalan pun, saya udah tertidur. Parah!
Sebenarnya, saya mau cerita lebih panjang lagi. Tapi ngantuk nggak ilang-ilang... Aku tak tidur dulu ya. ZzZZzzzz.....ZzzzZzzzZZZzzzz........


Monday, January 29, 2007

Polisi Jadi Mainan, Polisi Juga Suka Main-main.


Paling males kalo tiba-tiba diberhentikan polisi di jalan. Seringnya nyari-nyari kesalahan. Giliran emang lagi salah beneran, di kepala yang ada adalah gimana caranya supaya bisa "damai".... Iya gak? Jadi jangan heran kalau rekan-rekan dari advertising agency sekarang lagi demen ngerjain polisi. Polisi dijadiin mainan yang bisa bikin ketawa. Liat aja iklan rokok yang "Taat kalau ada yang liat" sama " Hati-hati, ada polisi (lagi) tidur".

Waktu masih kuliah dulu di Semarang, saya distop polisi dengan alasan melanggar lampu merah. Padahal lampu masih belum merah, masih kuning. SIM C saya ditahan dan disuruh ambil di kantor polisi yang dekat pasar peterongan. Sore harinya, saya hanya bertemu dengan beberapa polisi wanita (Polwan). Cantik sih, wanita asli..... tapi tetap polisi. Ciut nyali saya. Mungkin karena mereka juga sudah lelah seharian, para Polwan itu gak sangar. Malah ngajak saya bercanda. Ujung-ujungnya saya terintimidasi. Dilecehkan. Mereka mencubit saya, lengan dan pipi. Aduh......

Lain cerita teman saya. Entah kasusnya apa, yang pasti dia disuruh nyanyi di kantor polisi.

Beda lagi dengan teman kantor saya yang lama. Namanya Alex. Setiap hari naik motor dan sering pulang malam ke rumahnya di daerah Pamulang. Suatu malam, ada razia. Semua sepeda motor disuruh berhenti, termasuk Alex. SIM, STNK, helm, lampu, spion, semuanya aman. Beres dong, harusnya. Eh, polisi nyuruh Alex buka tas. Ada kepingan cakram padat, alias VCD. Sebetulya itu Blue Film, tapi Alex ngeles. Dia bilang isinya lagu-lagu karena dia anak band. Bodohnya, polisi percaya aja. Dalam tas Alex juga ditemukan obat. Polisi membentak "Kamu pemakai ya?". Alex tertawa dalam hati, itu khan Enervon C yang dikeluarin dari botol karena botolnya khan lumayan berat.
Polisi yang menggeledah Alex gak berhenti. Tas pinggang Alex juga dibongkar. Ditemukan sekotak kartu remi. "Kamu main judi?" polisi nanya lagi seraya nakut-nakutin. Alex jujur bilang bahwa dia adalah magician alias pemain sulap dan kartu adalah salah satu alatnya.
"Emang kamu bisa?" Polisi masih nada sok galak.
"Bisa pak. Kalau boleh, saya praktekin sekarang," lanjut Alex.
Alex memainkan trik pertama. Lancar. Polisinya senang.
Alex memainkan trik kedua. Sukses. Polisinya gembira.
Alex memainkan trik selanjutnya. Hebat. Polisi mulai memanggil teman-temannya.
"Woi... ada yang jago main sulap nih."
Alex memainkan trik demi trik. Razia di daerah Pamulang itu berhenti. Selesai. Motor-motor tak lagi diberhentikan.

Sekarang Alex bersahabat dengan polisi-polisi itu. Tanpa helm pun, Alex dapat berkendaraan dengan aman. Alex janji mau memperkenalkan kami kepada polis itu. Siapa tau, kami juga bisa aman di jalan hehehe....


Si Cantik Yang Membunuh !

Kompas hari ini mengatakan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menelan korban 1752 jiwa. 8 orang diantaranya tidak terselamatkan.

Tadi pagi di FeMale Radio menyiarkan berita bahwa rumah sakit mulai kewalahan menerima pasien DBD.

Detikcom siang ini memberitakan bahwa RSUD tidak boleh menolak pasien demam berdarah.

Dalam hati saya berdoa, semoga saya, keluarga, sanak famili dan semua rekan-rekan pembaca blog ini dijauhkan dari bahaya demam berdarah. Amin.

Kalau rumah kita bisa kita bersihkan, mari kita bersihkan lingkungan kita juga. Tanah kosong sebelah rumah, lahan tak terpelihara di belakang rumah juga bisa menjadi sarang nyamuk aedes aegypti ini. Jadi, gak cukup cuma rumah kita saja yang kita bersihkan. Ajak tetangga atau siapa saja yang memungkinkan untuk memeriksa lahan tak bertuan di sekitar rumah.

Semoga Allah SWT melindungi kita semua. Amin

Sunday, January 21, 2007

Olahraga Bareng Andy Roddick & Mario Ancic



Weekend kemaren saya sempatkan lagi berolahraga di Fitness First Plasa Semanggi, setelah hampir 15 hari tidak sempat berolahraga. Biasanya, treadmill menjadi pilihan pertama saya untuk pemanasan dan melatih cardio. Paling lama 30 menit dengan pembakaran kalori sebanyak 350 kcal, lebih kurang.

Tapi weekend kemaren, sangat istimewa. Sambil menyaksikan babak ke 4 Australian Open, antara unggulan ke 9, Mario Ancic, melawan unggulan ke 6, Andy Roddick, tanpa terasa saya melakukan treadmill selama 1 jam 30 menit. Pembakaran kalori sebanyak 700 kcal, dan jarak sudah 7,46 km. Kaki sudah mulai pegel, saya juga sudah mulai bosan berjalan kaki, tapi pertandingan Andy Roddick vs Mario Ancic masih belum selesai. Saya memutuskan pindah ke latihan ke sepeda statis. Di sana saya menyaksikan pertandingan set ke 5 yang sangat menentukan siapa yang berhak melaju ke babak semifinal. Lebih kurang 40-an menit bermain sepeda, saya membakar kalori tambahan lagi sebanyak 250 kcal. Jarak tempuh waktu main sepeda mencapai 7 km lebih dikit. Wah, saya memecahkan rekor saya sendiri dengan berolahraga paling lama, jarak paling jauh dan pembakaran kalori paling banyak. Terima kasih untuk 2 bintang tenis Andy Roddick dan Mario Ancic hehehe...

Masa kecil saya termasuk jarang berolahraga. Waktu SD hanya Senam Kesegaran Jasmiani (SKJ) saja, seperti umumnya sekolah-sekolah di jaman itu. Sesekali main pingpong dan sepatu roda dengan teman-teman tetangga. SMP saya sering main volley di tanah kosong sebelah rumah. SMA dan kuliah termasuk aktif menjadi team basket dan sering melakukan pertandingan ke luar kota.

Setelah bekerja, saya mulai beralih ke tenis. Alasannya sederhana saja. Kalau basket harus rame-rame mainnya. Tenis cukup ber 2 saja. Kalau gak ada teman, toh ball boy juga bisa dijadikan partner. Alasan selanjutnya adalah faktor U alias Uban.. eh umur :) Maksudnya begini, bahwa banyak orang yang masih bermain tenis di usia 50an.

Saya sempat bermain tenis di lapangan Hotel Indonesia, cukup rutin, bersama Iwan, Rio dan Pram. Gak sekedar bermain, kami bahkan sampai pakai pelatih. Tapi sayangnya, tidak berapa lama lapangan di HI itu dibongkar dan kami juga mulai jarang berlatih.

Lalu saya mulai ikutan fitness. Sudah cukup lama sebenarnya. Banyak teman-teman yang berkomentar,"Wah, udah six packs dong?" atau "Kok gak berubah badannya?" atau kementar-komentar lainnya. Bagi saya, berolahraga bukanlah untuk membentuk tubuh agar indah sempurna seperti seorang model atau binaraga, barangkali. Berolahraga, apapun itu, adalah kegiatan untuk tetap bugar dan sehat. Jika kemudian ototnya terbentuk, perutnya rata, dan sebagainya, itu adalah bonus karena rajin berlatih. Jadi, olahraga itu wajib. Kudu. Harus.

Sunday, December 31, 2006


Horeeee.... Tahun Baru Lagi.... !!!


Semalam saya merayakan tahun baru dengan melakukan tugas sebagai Chief Happiness Officer untuk sebuah produk atau brand. Tugasnya lebih banyak sebagai greater dan hahahihi saja. Ya.... namanya juga bertugas, maka saat detik-detik pergantian tahun saya lalui dengan teman-teman kerja. Gak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja.

Ingatan saya justru melayang ke beberapa acara tahun baru yang pernah saya lakukan. Yang paling saya ingat adalah ketika merayakan acara tahun baru bersama keluarga di rumah besar kami di Bengkuang No. 29, Padang. Kami beradik kakak berjumlah 8 orang. Beda usia kakak tertua dan yang bungsu sekitar 12 tahun. Jadi, kami dibesarkan hampir serentak. Belum lagi ada beberapa saudara yang tinggal di rumah kami. Malam tahun baru itu (lupa persisnya) kami rayakan ber 13 orang dengan duduk membentuk lingkaran besar dan mulai bermain kartu. Entah apa nama permainannya, tapi pemain yang kalah akan mendapatkan coretan tak terputus di wajahnya. Yang berhak mencoret adalah pemain yang menang. Coretan menggunakan lipstik merah, eyes shadow hijau atau bedak putih, boleh pilih salah satu. Diakhir acara akan terpilih seorang raja atau ratu, yaitu yang wajahnya paling hancur karena banyak coretan.

Permainan itu dimulai sekitar jam 11 malam. Tepat jam 00.00 WIB, kami terus asyik bermain hingga jam 1-an. Jadi, detik-detik pergantian tahun dilewati biasa-biasa saja. Sama seperti pergantian hari dari Senin ke Selasa saja layaknya.

Prosesi count down alias hitung mundur, saya alami waktu masih bekerja di radio Suara Sakti, Semarang. Malam tahun baru kami mengundang bintang tamu dari ibukota, yaitu Hedi Yunus dan tahun berikutnya Yuni Shara. Cuma karena bertugas, saya gak merasakan apapun. Lebih kurang sama seperti ngadain event atau show artis biasa.

Yang agak beda justru ketika malam pergantian tahun 2003 - 2004. Waktu itu, saya ke Mesjid Raya Pondok Indah bersama teman baik saya Iwan. Malam itu ada dzikir bersama Ustad Arifin Ilham. Pengunjung disarankan menggunakan pakaian putih-putih, termasuk saya. Beberapa saat sebelum jam 00.00 WIB, dzikir dan doa sudah dipanjatkan. Banyak yang meneteskan air mata, banyak juga yang tersedu-sedu. Tepat jam 00.00 WIB, sang ustad mengajak semua jamaah untuk sujud syukur. Tak terasa, air mata membasahi sajadah sujud saya. Begitu banyak doa dan harapan saya panjatkan. Masa bodo dengan bunyi petasan dan kembang api di kejauhan. Saya cuek saja dengan bunyi terompet dan klakson kendaraan dari jalan raya. Saya berusaha berkonsentrasi saja.

Selesai acara di Mesjid itu, saya dan Iwan berencana pulang. Tapi perut lapar. Kami menelepon teman baik kami yang lain, Rio dan Pram, yang kebetulan ada di Citos. Akhirnya kami menuju Citos dan saya saltum alias salah kostum. Rupanya malam itu Citos sedang ada acara Street Carnival. Banyak orang-orang yang berkostum ala Brazilian berseliweran dan saya tetap dengan baju koko putih. Hm.... cuek saja lah. Saya lapar hehehe....

Dan tadi malam, saya berkesimpulan bahwa bagi saya, malam tahun baru tak ubahnya seperti malam pergantian hari biasa. Banyak orang membuat resolusi atau rencana. Tapi menurut saya, tidak harus malam tahun baru khan? Kalau emang mau berubah, lakukan sekarang. Segera laksanakan. Tak usah menungu pergantian tahun apabila semua rencana, niat dan harapan itu bagus adanya.

Tapi bagaimanapun juga, saya tetap mengucapkan Selamat Tahun Baru 2007. Semoga kehidupan kita akan jadi lebih baik di tahun ini. Maju terus dan Jaya selalu. Amin.

Monday, December 25, 2006

Ragam Pengamen

Setiap hari naik bis kota menuju arah Blok M membuat saya sering bertemu dengan para pengamen. Kadang terganggu, kadang terhibur, kadang dicuekin dan tetap tertidur. Tidak banyak yang bagus dan serius bernyanyi. Lebih banyak yang sebelas dua belas (alias sami mawon) dengan pengemis. Kalau pengamennya anak-anak di bawah umur, baik lelaki maupun perempuan, yang timbul adalah rasa kasihan terhadap masa depan mereka.

Tapi kalau yang ngamen sudah dewasa atau usia produktif, nah inilah yang saya bilang beda tipis sama pengemis. Badan sehat, tenaga kuat seharusnya mereka bisa bekerja yang lain. Dan menurut saya, ngamen bukanlah pekerjaan. Walau mereka sering menyebutkan diri mereka "seniman jalanan", tapi itu bagi saya cuma sekedar istilah agar mereka lebih dihargai. Padahal belum ada karya mereka yang bisa dinikmati dan bermanfaat bagi orang lain. (sebagai seniman, tentu harus ada karya seni yang mereka ciptakan)

Satu atau dua pengamen memang cukup menghibur. Tapi saya belum bisa mengapresiasi mereka sebagai penghibur. Tapi sudah lah..... Yang mau saya bagi kali ini adalah beberapa pengamen yang saya jepret dalam beberapa hari terakhir. Here we go... halah!


Kalo yang ini, nyanyinya lumayan. Suara serta pilihan lagunya oke. Secara keseluruhan not bad lah. Tapi dengan badan sebesar itu, selayaknya dia bisa kerja yang lebih baik.

Duet yang berikut ini memainkan lagu-lagu religi Islamsecara medley. Ada lagu "Jagalah Hati" (jangan suka horny... hehehe) dari AaGym, juga "Tombo Ati" milik Opick(Opick bikin Dealove juga bagus banget yak Two Thumbs Up), serta juga lagu "Perdamaian" yang aslinya gambus abis, tetapi menjadi pop rock keren oleh Gigi Band.


Pengamen yang ini terbilang kreatif. Dia selalu menggunakan kalimat pembuka dan memperkenalkan lagunya satu per satu, yang katanya lagu-lagu itu diciptakan sendiri. Tetapi, jujur saja, antara lagu satu dan lagu lainnya sama sekali tidak ada bedanya kecuali liriknya. Grip atau kunci gitarnya cuma 2, yaitu kunci G dan F. Lalu cara genjreng gitarnya juga sama, seperti ketukan reggae tapi kok mirip juga sama lagunya Benyamin S (Eh ujan gerimis aje... gitu lah).


Sering kali pengamen bernyanyi dengan kunci nada dasar yang tidak pas. Bagi saya ini ajaib sekali. Secara ketukan, tempo, kunci gitar, bahkan tanda masuknya lagu semua pas. Rasanya dia belajar dengan seseorang yang lebih jago. Bisa jadi iya, karena pengamen itu ada wadahnya juga. Tapi, menyanyi dengan kunci nada yang ketinggian atau kerendahan bagi saya adalah sebuah kebodohan, apalagi harus bernyanyi di depan umum dan ingin mendapatkan uang pula. Pengamen yang ini melakukan itu. Nada dasarnya ketinggian ketika membawakan sebuah lagu milik Ungu. Ketika refrain lagu "Maaf kan aku, menduakan cintamu... dst..." yang memang cukup tinggi nadanya, yang dilakukan pengamen ini adalah menegakkan badannya dan memanjangkan lehernya. Mungkin dia berharap bisa ikutan tinggi suaranya. Mirip ayam jago berkokok hehehe...

Pengamen yang paling jago menurut saya apabila bisa memainkan alat musik yang tidak biasa. Kalau gitar, itu mah biasa. Apalagi kalo cuma bawa tutup limun atau tutup botolyang dikecrek-kecrek doang. Gak kreatif. Parahnya lagi, banyak juga yang modal tepuk tangan. Aduh.... Kalau seandainya mau kreatif dikit, tepuk tangan juga seru. Tapi kalau badan gede, suara cukup kuat, mbok ya jangan modal tepuk tangan dong. Belajar gitar kek, kencrung kek. Atau belajar suling? Hebatnya lagi ada yang ngamen pake biola. Yahud banget. Lagunya My Heart Will Go On pula.... Main biola itu gak gampang. Tapi pengamen ini jago. Jadi ikhlas aja kalo ngasih.

Diantara pengamen-pengamen yang saya temui di atas bis kota Patas AC 34 ataupun AJA 138, inilah yang paling TOP. Dia selalu membawakan lagu-lagu Rhoma Irama. Iringannya bukan gitar, bukan kecrekan, apalagi tepuk tangan. Pengamen ini cukup bermodal. Dia membawa kaset minus one, sound system sendiri lengkap dengan microphone tanpa kabel. Hebat. Suaranya gak jelek-jelek amat. Sengau dan cengkok yang menjadi ciri khas dangdut bisa dilakukan dengan baik. Satu hal lagi yang aku salut, dia menyapa penonton sama seperti Bang Haji Rhoma Irama menyapa penggemarnya. Saya yakin,dia emang penggemar berat si Raja Dangdut itu. Bahkan jambang nya pun mirip.Liat aja fotonya :)









Sunday, December 17, 2006


Hey, jangan pipis sembarangan....
Dulu banget, ada lagu anak-anak yang punya lirik seperti itu. Sayangnya saya lupa lagu siapa dan juga lupa terusannya. Tapi, saya yakin banyak orang yang harus mendapat teguran seperti itu. Gak cuma anak-anak, tapi juga orang dewasa , khususnya kaum pria.

Kadangkala, hasrat buat berkemih memang tidak bisa ditahan. Banyak yang crooottt..... di sembarang tempat. Pingir jalan raya atau jalan tol, sering sekali terlihat pemandangan dimana orang buka pintu mobil, lalu seeerrrrr..... asyiiikk.... lega..... hehehe. Pojok-pojok gedung atau ujung jalan sering bau pesing. Heran deh.... gak enak banget.

Tulisan "Dilarang kencing di sini" sangat banyak dan mudah ditemukan. Versinya banyak. Ada yang kasar, keras, ada juga yang nyeleneh. Beberapa diantara terekam pada gambar di bawah ini.

Kalau teman-teman pernah melihat peringatan serupa tapi dengan kata-kata yang 'gak umum', silakan dipotret dan kirim ke saya di sebelas4.yahoo.co.id. Ntar saya tambahin di blog ini hehehe...



Friday, December 08, 2006


DIBUANG SAYANG


Libur Lebaran kemaren, saya sempat berkunjung ke Bukittinggi, ke rumah kerabat. Bukan di tengah kota, tetapi agak pelosok, kira-kira 30 menit ke arah Payahkumbuh. Tradisi di sana adalah perayaan Khatam Quran yang dilaksanakan setelah Hari Raya. Kampung itu berhias dengan marawa atau umbul-umbul yang berwarna merah, kuning dan hitam.
3 warna itu konon melambangkan 3 tungku sajaranganan alias 3 tokoh pemersatu suku di kampung, yaitu alim, ulama dan cerdik pandai. Tetapi, keponakan saya Fali berteriak lantang,"Wah, banyak penggemar bola Jerman ya di sini. Kok banyak benderanya?" Duh.... dia lebih kenal warna bendera asing daripada warna tradisi kampungnya.

Pistol maninan adalah salah satu mainan favorit yang paling banyak dibeli oleh anak-anak sepanjang lebaran. Mereka menentengnya kemana-mana, termasuk ketika mereka berramai-ramai menaiki truk menuju ke luar kota. Di depan mobil kami yang membawa saya dan keluarga besar menuju daerah Matur untuk melihat Danau Maninjau, saya menemukan "perang saudara" antara penumpang truk dan penduduk yang wilayahnya dilintasi oleh pendatang-pendatang berpistol.
Lihat gaya meraka. Piiissss mannnn.....



Yang ini adalah foto-foto di Bukittinggi. Mau cari apa di sana? Makanan tradisional? Banyak... tuh, dalam bungkusan plastik besar atau kecil di pajang meriah berjajar di daerah Pasar Atas. (lihat foto atas kiri)

Mau bordiran untuk baju muslim? Jangan tanya lagi. Tidak satu dua toko yang menjualnya, tapi bejibun. Segala warna ada. Bejikuhibiniu aja kalah banyak.Mau yang dijual di toko atau yang ditengah pasar, semua sama menariknya. (lihat foto atas tengah)

Sate padang? No... ini Sate Bukittinggi. Dagingnya berbumbu seperti ada serundengnya. Lebih guring dan renyah (lihat foto atas kanan). Kuahnya kuning, bukan merah. Kuah merah bisanya Sate Pariaman. Ada lagi sate Danguang-danguang yang dagingnya besar-besar. Sate bumbu kacang juga ada. Banyak rupanya jenis sate padang ini.


Kota Padang terletak di daerah pesisir. banyak pantai-pantai indah di sana. Sebut saja Pantai Air Manis yang menjadi tempat legenda Malin Kundang.dengan 3 mobil, kami berangkat ke pantai itu yang berjarak 1 jam dari rumah. Sengaja berangkatnya menjelang sore, sekalian bisa melihat sunset di sana. Anak-anak yang mau berenang juga tidak menjadi terlalu gosong kalau berangkatnya agak sore. Ternyata, matahari tertutup asap. Ya, asap, bukan awan. Hari Raya kemaren, kebakaran hutan memang sedang seru-serunya di daerah Riau dan Jambi. Imbasnya ke Padang. Matahari terlihat malu-malu.


Dan ternyata, Ibu saya yang tahun 2006 ini berusia 76 tahun, baru kali itulah pergi ke Pantai legenda Air Manis. "Yang mana sih, batu Malin Kundang itu?" tanya Ibu saya ketika turun mobil. Padahal, di pantai itu, kakak saya yang nomor 2, pernah menari untuk acara di TVRI pada tahun 80an. Padahal lagi, di tahun 80an juga, saya pernah mendapat musibah di pantai itu. Ketika itu, entah binatang apa melilitkan lendirnya ke kaki saya dan mendadak sontak saya seperti terkena aliran listrik ketika bermain di air pasang, diantara Pulau Angso Duo dan pantai. Alhasil, saya harus segera mendapat pertolongan pertama. Penduduk setempat mengatakan, obatnya adalah urine alias air kencing. Dan.... kaki saya dikencingin oleh guru matematika, bernama Pak Yus. Alamak !!!!

Satu lagi pantai terkenal adalah Teluk Bayur. Sejak lama, bahkan sejak jaman Belanda, Teluk Bayur sudah menjadi pelabuhan kapal penting di tanah air. Bukan karena penting lalu Ernie Djohan mempopulerkan lahu dengan judul saya "Teluk Bayur". Tetapi rasanya pelabuhan itu memang indah dan saat lagu itu popuiler tahun 70an (atau 60an ya?), Teluk Bayur menjadi saksi tangisan dan lambaian perpisahan siapa saja yang akan menuju ke Jawa (baca : Jakarta), entah untuk melanjutkan sekolah, cari kerja, merantau ataupun sekedar piknik. Dan menyambut Hari Raya kemaren, saya (bersama Fathya dan Fali) juga sempat ke Teluk Bayur, menjemput Adik saya dan keluarga yang pulang lewat laut.

Yang ini adalah foto yang ada di dinding rumah kami di Padang. Saya jepret ulang lagi. Ini adalah salah satu dari sekian banyakj foto Ayah dan Ibu saya tercinta. Tak mungkin diulang adegan serupa, karena Ayah saya sudah berpulang tahun 2003 lalu.Ketika masih di bangsu SD, saya bangga dan senang sekali apabila rapor saya dijemput oleh Ibu saya. Waktu SD saya tidak pernah menjadi juara kelas, tapi 5 besar atau 10 besar alhamdulillah selalu di tangan. Ceileee.... Uhuy! Yang menbuat saya bangga bukan karena rapor saya, tetapi karena Ibu saya selalu terlihat cantik, anggun dan kharismatik. Paling TOP lah diantara ibu-ibu lain hehehe....
Jadi ingat pantun yang ada dalam sebuah lagu :

Pohon tebu dibilang manis
Yang lebih manis tebu di paya
Banyak ibu dibilang manis
Yang paling manis tentu Ibu saya


Setiap kali jepret, ada saja suara yang berbisik,"Semoga beliau tahu, aku sayang dan bangga."
I LOVE U MOM

Friday, December 01, 2006


Donor Darah

Dengan tinggi tubuh 181 cm, saya ingin sekali memiliki berat badan yang berimbang. Susah sekali menambah berat badan ini. Gak segampang menambah dosa (halah!). Kalau sekarang saya sering ke gym, itu lebih karena ingin menambah kebugaran dan daya tahan, bukan untuk membentuk tubuh apalagi menguruskan badan. Menjadi kurus mah, gampang banget. Demam 1 hari aja, saya bisa turun berat 3 kg.
Kalau diperhatikan, porsi makan saya lumayan banyak lho. Tapi memang, saya tidak terlalu sering ngemil. Ditambah lagi dengan faktor U (iya iya.... UMUR. Puas?) maka makanan yang masuk lebih dulu menumpuk dan menggembil di sekitar perut daripada merata di sekujur badan.

Permasalahan berat badan ini sudah menjadi cerita sejak lama. Saya ingat, tahun 1999 ketika pertama kali mendonorkan darah di Rumah Sakit Siloam Gleaneagle. Dengan bentuk badan yang cungkring di kala itu, kira-kira bisa jadi donor gak ya? Waktu itu sempat bimbang dan ragu, takut semaput. Ntar malah jadi bahan tertawaan. Gak lucu banget khan? Tapi, saya nekad aja. Toh sebelum diambil darah, semua pendonor akan ditimbang berat badannya, diukur tensinya dan dilihat juga kadar HB nya. Pastinya, pihak PMI (Palang Merah Indonesia) tidak mau ambil resiko dengan nyoblos orang yang tak layak donor.

Deg-degan juga waktu itu. Perawat yang ngukur tensi ikut ngeledek.
Katanya,"Deg-degan kenapa, Mas?"
Jawab saya,"Pengalaman pertama, Mbak."
Perawat melanjutkan,"Tenang aja. Kaya digigit semut kok."
Dalam hati saya ngedumel, iya kalau semutnya se upil. Kalau semutnya segede alat suntik, dan taringnya segede jarum suntik, ya sakit juga.


Tensi bagus, HB bagus dan berat badan juga dianggap cukup. Alhamdulillah. Proses selanjutnya menunggu giliran.

Pas giliran saya ambil darah, busyet, banyak juga ya. Katanya 250 cc alias 1/4 liter. Langsung terbayang botol Aqua 1 liter yang besar. Dan darah saya diambil seperempat botolnya. Dan ngalirnya cepet banget, deras. Mungkin karena saya ded-degan, jadi jantung memompa lebih cepat. Saya jadi lupa, sakit atau gak ya waktu di tusuk jarum suntik di urat nadi itu ya? Sungguh, terlupakan karena saya lebih berpikir,"Pusing gak ya... pusing gak ya?"

Setelah jarum ditarik dari lengan, proses selesai dan saya gak pusing. Tetapi pada saat mau berubah posisi dari berbaring ke duduk, saya lakukan pelan-pelan. Benar-benar 'handle with care' lah badan ini. Takut tumbang. Setelah duduk, ternyata aman. Selanjutnya, turun tempat tidur, berjalan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, lalu berpikir lagi,"Pusing gak ya... pusing gak ya? Tumbang gak ya? Gubrak gak ya?" Ternyata gak tuh.... Lanjut jalan, menuju ke meja tempat konsumsi. Segelas susu coklat bikin badan ini enak dan Alhamdulillah, lancar. Saya tidak menjadi bahan tertawaan. Selamat !
Sejak saat itu, saya tidak ragu lagi menjadi pendonor darah. Lebih senang lagi, sejak saat itu, saya jadi yakin bahwa berat badan saya normal-normal saja kok. Saya gak kurus dan gak cungkring seperti yang saya khawatirkan. Lebih hebat lagi, berat badan saya justru nambah setelah donor darah itu. Jika dulu dulu berat badan saya 67 atau 68 kg saat pertama donor di tahun 1999, maka setelah 10 kali menjadi pendonor, berat badan saya naik antara 6 - 7 kg, menjadi 73 kg dengan tinggi badan tetap 181 cm. Dan perubahan itu terjadi dalam kurun 7 tahun !!!

Wakakakakkkk... gak jadi hebat! Batal hebat!
Ya ya ya... saya manusia biasa, bukan manusia hebat, bukan orang super. Just an ordinary guy. Semua orang bisa menyumbangkan darahnya untuk menyelamatkan orang lain. Jika materi dan harta tidak berlebihan, jika tenaga sudah terkuras untuk kerja dan keluarga, maka darah kita juga bisa dijadikan sedekah untuk membantu meringankan beban orang lain. Insya Allah, pahalanya dihitung sama Allah. Insya Allah hiduppun akan menjadi lebih bergairah karena darah yang sudah diambil akan segera diganti dengan darah baru yang lebih segar. Ayo, donor darah lagi :)








Thursday, November 09, 2006

Susahnya Memulai Bisnis di Indonesia
(Hasil temuan di warnet hehehe....)

Akhir-akhir ini saya sering berpikir untuk melakukan suatu bisnis yang mampu mendatangkan tambahan penghasilan sekaligus menjadi 'ladang' di hari tua kelak. Macam-macam bisnis sering terlintas di kepala. Mulai dari punya Event Organizer atau Wedding Organizer sendiri, punya Souvenir Shop di kampung halaman, Barber Shop atau punya Coffee Shop, Indomart atau Alfamart (waralaba gitu deh) dan lain-lain. Pikiran semacam itu tidak pernah saya patahkan. Malah terus saya pelihara walaupun tidak atau belum pernah berusaha serius untuk memulainya.



Tanpa sengaja, beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah tulisan dari seseorang yang masih tertinggal di komputer yang akan saya gunakan, di sebuah warnet. Artikel itu menarik sekali. Judulnya "Memulai Usaha di Indonesia". Saya baca artikel itu dan saya kaget dengan tulisan yang saya baca. Ternyata ada 12 tahap yang harus dilalui agar sebuah bisnis bisa terdaftar dan bisa diakui secara legal.

"... diantaranya mendaftarkan perusahaan ke Departemen Kehakiman, mendaftarkan domisili perusahaan ke Kelurahan, mengurus Nomor Pokok Wajib pajak (NPWP), mengurus Tanda Daftar Perusahaan (TDP) serta Surat Ijin Mendirikan Usaha (SIUP) di Dinas Perdagangan. Prosedur yang dilakukan di Departemen Kehakiman dilakukan oleh Notaris. Sedangkan untuk mendapatkan NPWP, TDP dan SIUP dapat dilakukan oleh pengusaha sendiri atau menggunakan biro jasa." Begitu kutipan tulisan yang saya baca tanpa sengaja itu.

Lalu saya menemukan tabel yang membuat saya bertambah kaget. Tabel itu menggambarkan waktu yang diperlukan jika seseorang ingin memulai sebuah bisnis di berbagai negara. Di Australia hanya dibutuhkan waktu 2 hari saja. Ibaratnya, hari Senin mulai di urus, Rabu udah bisa jalan tuh bisnis. Hm..... cepet banget ya. Lebih cepet daripada nyuciin baju di laundry!. Menyenangkan sekali. Kalau di negara tetangga kita Singapura, butuh waktu 6 hari. Malaysia? 22 hari alias 3 minggu lebih dikit. Kira-kira sama dengan waktu untuk ngejahitin baju di tukang jahit hehehhe. Negara tetangga yang baru berdiri, yang infra strukturnya banyak dibuat oleh orang Indonesia, alias negara Timor Leste, membutuhkan waktu 98 hari untuk memulai sebuah usaha.

Lalu Indonesia, berapa lama ya? Ok.... sit down please, relax and read carefully.

Untuk melaku
kan 12 tahap prosedur yang teklah dijelaskan di atas tadi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Worl Bank, adalah....... Seratus Lima Puluh Satu alias 151 hari (waktu kalender).



Data selengkapnya begini :

Australia 2 hari
Singapura 6 hari

Hongkong 11 hari

Malaysia 22 hari
Korea 30 hari
Thailand 33 hari
Philipina 48 hari
China 48 hari
Taiwan 48 hari
Vietnam 50 hari
Kamboja 92 hari
Timor Leste 98 hari
Indonesia 151 hari
Laos 192 hari

Tapi, masih menurut tulisan tak sengaja terbaca dan menggugah itu, LPEM UI memiliki temuan penelitian yang berbeda dengan World Bank. Menurut LPEM UI, waktu yang diperlukan untuk untuk memperoleh ijin usaha di Indonesia adalah 80 hari kalender atau 57 hari kerja. Kalaupun survey LPEM UI ini benar, tetap saja masih lebih lama dibanding di negara ASEAN lain.
Australia memang paling TOP lah, 2 hari saja. Hebat.

Sekalipun temuan itu mengernyitkan dahi cukup lama, dan membuat kerut-kerut di jidat semakin bertambah tegas, tapi niat saya tidak akan surut untuk melakukan bisnis untuk menambah pendapatan. Bukankah sudah tidak musim ketika seseorang masih menganut paham Single Income? Hayo, berbisnis....